Beranda > Berita Terbaru
National Humanity

Tekad Tim Medis-ACT untuk Warga Muaragembong

28 Feb 2017
Tekad Tim Medis-ACT untuk Warga Muaragembong

ACTNews, BEKASI –  Kecamatan Muaragembong merupakan salahsatu kecamatan yang terletak di wilayah pesisir.  Kondisi wilayah pesisir biasanya kontras dengan wilayah daratan baik dari aspek ekologi, sosial, maupun ekonomi penduduknya. Di Kecamatan  yang  mayoritas warganya suku Betawi ini, Aksi Cepat Tanggap/ACT sering menggelar aksi kemanusiaan, seperti: Implementasi Program Community Development, Program Sedekah Pangan dan Aksi Tangggap Bencana banjir, baik di fase emergensi, recovery  maupun  di fase relief.
 
Aksi terkini ACT di Kecamatan ini dilakukan pada Sabtu – Minggu (25-26/2), dengan menggelar Pelayanan Kesehatan Cuma-Cuma dan distribusi susu di dua kampung di Desa Pantai Harapan Jaya. Setelah sebelumnya Tim Tanggap Bencana ACT  melakukan aksi evakuasai korban banjir dan distribusi bantuan natura dan logistik untuk korban banjir.     
 
Saat ini di pesisir Muaragembong tingkat abrasinya semakin mengkhawatirkan. Hal ini terlihat dari semakin  mundurnya pantai di Muaragembong. Selain itu terlihat juga bekas-bekas adanya bangunan, sawah serta kebun-kebun yang terendam air laut dan air sungai. 
 
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan Tim ACT saat melakukan asesmen, dengan menyusuri sungai Bekasi yang dimulai dari Bendung Bekasi sampai dengan Pangkalan Babelan, terlihat bahwa sampah yang ada di sepanjang sungai berasal dari sampah yang dibawa oleh tukang sampah yang dipekerjakan oleh penduduk yang bermukim di perumahan. Disamping itu, terlihat juga  pemukiman yang berdiri di bantaran sungai dengan jarak kurang dari 10 meter, kondisi ini dapat menyebabkan terjadinya longsoran secara bertahap. 
 
Pemukiman yang berdiri di pesisir Muaragembong terlihat sangat jauh dari layak, dengan kondisi air minum yang sulit, sanitasi menggunakan air sungai atau air laut, selain itu  warga juga kesulitan dalam memperbaiki rumah mereka. Sebagian penduduk masih mencoba untuk bertahan di sekitar pesisir pantai atau di pinggir sungai, walaupun rumah mereka banyak yang mengalami kerusakan disebabkan terjangan gelombang air laut dan luapan air sungai.
 
Untuk mengantisipasi abrasi yang sangat kuat tersebut, akhirnya warga meninggikan rumah mereka menjadi panggung. Hal ini dapat mencegah air pasang masuk ke dalam rumah. Ketika ditanya mengapa mereka masih bertahan dengan keadaan tersebut,? Mereka pun  menjawab: karena  tidak memiliki modal untuk membuat rumah yang baru, serta belum mendapatkan tempat baru yang dapat dibangun rumah, karena sebagian besar mata pencaharian mereka adalah nelayan dan petani.
 
Kerusakan lingkungan yang semakin parah menjadikan lingkungan sekitar kotor dan tidak terurus, selain sampah yang menumpuk terdapat lumpur hasil endapan dari Sungai Citarum dan Sungai Cibitung Bekasi Laut (CBL). Aktivitas penduduk sekitar yang sudah terbiasa dengan banjir dan tumpukan lumpur sepertinya tidak membuat mereka takut terkena penyakit kulit.
 
Pola hidup yang tak sehat inilah yang menjadikan Tim Medis ACT, 'tertantang' untuk ikut membantu warga Muara Gembong terutama  merubah pola hidup tak sehat yang selama ini dipraktekan warga di kehidupan sehari-harinya. Tim Medis-ACT mencoba terus melakukan pendampingan (advokasi),  mengedukasi warga Muaragembong untuk merubah perilaku hidup tak sehatnya, terutama pengadaan sanitasi yang bersih, termasuk membuat MCK sendiri dan tidak melakukan aktivitas mencuci, mandi dan buang hajat di sungai.        
 
Semoga usaha Tim Medis-ACT dengan berjalannnya waktu bisa merubah pola hidup warga Muaragembong menjadi lebih sehat, ramah dan peduli terhadap lingkungannya, amien. []     
 
Penulis: Nurjanatunnaim
Foto & Editor: Muhajir Arif Rahmani