Beranda > Berita Terbaru
Emergency Response

Kliwon si Penjaga Kelud

03 Feb 2014
Kliwon si Penjaga Kelud

BERTAHAN: Saat Gunung Kelud meletus, semua warga mengungsi ke bawah, kecuali Kliwon (50) warga Laharpang, Desa Puncu, Kec Puncu, Kediri yang bertahan di lereng gunung.

 Foto: Sutaryo

 

Saat seluruh warga di lereng gunung Kelud berlomba-lomba menyelamatkan diri dari semburan hujan pasir dan batu dengan berbagai cara, ada segelintir manusia super yang justru memilih berdiam diri di kampung halamannya. Menjaga desanya, mengawasi harta benda masyarakat, pemukiman, pertanian, ternak, dari tangan-tangan jahil tak bertanggung jawab.

Kliwon (50), saat ditemui Aksi Cepat Tanggap (ACT) sedang mencari pakan ternak di area perkebunan rakyat. Ia dan tetangganya tidak mengungsi meski nyawa taruhannya. Mereka berkidmad menjadi orang terakhir yang menjaga desanya. Kliwon tinggal di Dusun Laharpang, Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri. Wilayah ini merupakan zona merah, karena letaknya radius 5 km dari puncak gunung Kelud. Laharpang termasuk daerah terparah terdampak erupsi gunung Kelud, sebagian besar rumah penduduk rusak parah.

“Saya petani biasa, tanam cabe, kopi, cengkeh, mayoritas warga di sini nanam kopi. Kerugian total tanaman cabe, kalau istilah di desa satu bau, di sini satu kebon, ditotal 20 (juta) lebih. Saya mulai tanam cabe pakai musa yang mahal, satu kg Rp28 ribu, jika satu kebunnya bisa habis sekira 300 kg, itu belum  termasuk bibit, belum pupuk dan belum hitung tenaga. Orang sini semua sekarang sudah hancur”, ujar Kliwon.

Kliwon menuturkan saat kejadian, setelah gunung Kelud meletus pertama sekali pada Kamis (13/2/2014) pukul 21.30 WIB ia masih berdiam diri di rumah. “Pukul 22.00 meletus kedua, pukul 22.15 turun pasir dari puncak, saya tetap di rumah sampai pagi,” kata Kliwon.

“Semua warga saya yang bermukim di bawah, pergi, tinggal kami berdua lihat-lihat dan bertahan di rumah. Kalau ada orang lain yang lain yang punya hati tidak baik, kami bisa menjaga, supaya tidak dibuat kesempatan orang yang berbuat jelek. Perasaan saya takut atau tidak, kalau ada api dan gas saya lari naik sepeda. Jika dilihat parah saya pergi, karena berapinya ga nyampe, saya tidak ngungsi,” kenang Kliwon.

Letusan Kelud yang begitu dahsyat, kata Kliwon, “batunya sekepalan tangan sebelum jatuh, setelah jatuh hancur jadi kecil-kecil. Sebelum jatuh terlihat api. Rumah pada jebol kena batu”.

Kondisi begitu miris, mengingat tempat tinggalnya terisolir sehingga distribusi bantuan ke daerah ini terbatas. “Sudah satu hari ini belum dapat bantuan makanan (nasi bungkus). Saya belum makan, mau masak masak apa, beras tidak punya, uang tidak punya. Repot di sini. Untung warga saya, tadi pulang dari ngungsi bawa mie 4 bungkus dimasak untuk anak-anak. Saya orang tua tahan lapar, yang penting anak makan. Mau beli apa-apa tidak punya uang, orang tani, kerja mencangkul. Beberapa hari tidak kerja, tak ada pemasukan apa-apa,” tambah Kliwon.

ACT mendirinya dapur umum dengan menu bergizi dan layanan kesehatan di sejumlah tempat, menjangkau kebutuhan pangan korban erupsi Kelud yang berada di pengungsian maupun warga yang tetap bertahan di wilayah terdampak. Selain itu ACT memberikan bantuan material ratusan ribu genteng untuk warga di Kecamatan Puncu yang rumahnya rusak parah.

Sebagai obat pelipur lara, pada (25/2/2014) ACT menghadirkan Kak Seto, Pelawak Doyok dan Ali Nurdin untuk menghibur anak-anak, remaja, wanita dan manula korban erupsi yang tersebar di Kabupaten Kediri, khususnya desa Satak dan Puncu. Meski sebentar kehadiran pakar psikologi anak dan artis ibukota begitu menghibur dan menyenangkan warga, seolah bencana besar ini sirna beberapa saat. (Sty)