Beranda > Berita Terbaru
Emergency Response

Sabar dan Ikhlas Kelola Sekolah Pengungsi

17 Feb 2014
Sabar dan Ikhlas Kelola Sekolah Pengungsi

BERKUNJUNG – Kak Seto bersama Tim ACT dan GePPuK saat berkunjung ke salah satu sekolah di Kabanjahe.(Foto:desma/act)   

 

ACTNews.KABANJAHE – Meski jauh dari tempat tinggal, anak-anak pengungsi erupsi gunung Sinabung tetap berhak mendapatkan pendidikan. Sejak gunung ini erupsi pertama kali, Departemen Pendidikan Nasional (Diknas) setempat sudah menginstruksikan beberapa titik sekolah untuk siap menampung pendidikan mereka.

Di Kabanjahe terdapat 5 sekolah ditunjuk untuk berbagi ruang dan fasilitas untuk anak-anak pengungsi. Salah satunya adalah SDN 03/040445 Kabanjahe-Sumatera Utara. Sekolah ini menampung lebih dari 100 anak pengungsi dari kelas dari pos-pos pengungsian terdekat.

Menyadari jumlah anak pengungsi yang tidak sedikit, pengelola sekolah menjadwalkan kegiatan belajar mengajar yang terpisah dengan murid sekolah tersebut. Murid-murid asli memulai sekolah seperti biasa, sementara anak-anak pengungsi mulai sejak 13.00 siang.

Bukan perkara mudah mengelola sekolah untuk mereka. Tingkat kedisiplinan yang berbeda membuat para pengelola sekolah lebih banyak belajar untuk bersabar. Sastri Tarigan,S.Pd selaku Kepala Sekolah menuturkan, menerapkan perlakuan agak khusus bagi anak-anak ini. Tim pengajar pun bukan guru di sekolah tersebut, melainkan guru asli mereka dari sekolah asal.

"Kenyataannya, anak-anak pengungsi yang bersekolah disini kurang mengindahkan kebersihan. Buku-buku dirobek, diremas dan dibuang di kolong meja, serpihan kayu dari rautan pensil berserakan di dalam maupun luar kelas. Dan kita tidak bisa langsung marah begitu saja pada anak-anak tersebut, karena memang tingkat kedisiplinan yang berbeda," terangnya saat dikunjungi tim ACT dan Kak Seto, Senin (10/2), yang lalu. "Selain juga bobot pelajaran yang di desa sedikit berbeda dengan yang di kota," tambahnya.

Sastri menganggap hal ini menjadi lahan kebaikan untuk mereka maupun murid-murid pagi. Ia dan rekan-rekan guru lain senantiasa membangun kesabaran dan kesadaran pada anak-anak pagi agar tetap menjaga kebersihan, bukan dengan menyalahkan. Ia pun sering mengajak duduk bersama dengan para guru anak pengungsi guna membangun kesadaran kebersihan.

Sastri mengaku rekan-rekan pengajar di sekolahnya termasuk yang bisa bekerjasama dengan tim sekolah pengungsi. Di sekolah lain, kotoran-kotoran tersebut dibiarkan saja dan pengelolanya kurang komunikatif.

"Dulu anak-anak pagi kita juga sering mengeluh karena setiap pagi mendapati kelasnya kotor. Tapi, dengan pembinaan setahap demi setahap, masalah ini bisa lebih mudah diatasi. Ini juga salah satu bentuk proses belajar, belajar lebih ikhlas saat membantu sesama," tegasnya. (Desmalia)