Beranda > Berita Terbaru
Emergency Response

Peran Sosial Rumah Ibadah

17 Feb 2014
Peran Sosial Rumah Ibadah

PENGUNGSI KELUD - Pascaerupsi Gunung Kelud banyak warga yang mengungsi di Masji An-Nur Kediri.(Foto: dok/act)

 

ACTNews, KEDIRI - Antropolog Amerika Clifford Geertz dari, membuat nama Pare, Kediri mendunia setelah buku Religion of Java yang kontroversial terbit (1960).  Dunia punngeh, Mojokuto, nama lokasi riset tahun 1953-1954 ini adalah Pare, Kediri. Lalu ada Kampung Inggris tempat seorang intelektual santri memberi kursus bahasa Inggris dan mewajibkan pengikut kursus membuat kursus serupa untuk masyarakat. Cas cis cus bahasa Inggris meluas di Pare dan terkenal kemana-mana. Lalu, Masjid An Nur, landmark Pare, megah, memenangi penghargaan Raja Saudi karena desainnya. Ini bukan tentang Pare, tapi tentang peran social masjid.

Ya, area masjid An-Nur merupakan satu di antara puluhan kamp pengungsian besar pascaerupsi Kelud di Kediri. Di sini ACT bersama TNI membuka Posko dan Dapur Umum yang tak hanya melayani pengungsi di kamp ini tetapi mendistribusikannya ke sejumlah lokasi pengungsian lainnya seperti Gedung Serbaguna Kecamatan Pare. Di sini Dapur Umum mengirim antara 200-600 paket (menyesuikan kondisi engungsian saat akan didistribusikan). Pengungsi di sini fluktuatif, antara 900-an hingga 1200-an jiwa.  Siang lebih sedikit dibanding malam. Pagi hingga siang, sebagain pengungsi meneruskan mencari penghidupan sesuai profesinya.Ketika malam tiba, pengungsi belum bisa menghuni rumahnya di zona merah dekat Kelud, mereka menginap di pengungsian.

Di  Masjid An-Nur sendiri dengan 3,000 jiwa pengungsi, Dapur Umum ACT  mendistribusikan 300 an paket. Di sini, pengungsi anak-anak dan manula cukup banyak. Bantuan diberikan  untuk yang terlihat benar-benar memerlukan.

Masjid An Nur, dengan struktur megah dua lantai dan masih akan terus dikembangkan, nampak lantai atas yang masih terbuka, area berkeramik tertutup pasir vulkanik. Sebagian pengungsi menempati area ruang shalat yang bersih dan tertutup. "Tapi saat shalat, pengungsi otomatis minggir dan menunaikan shalat berjamaah," jelas Andhika Purbo Swasono, Komandan Disaster Emergency Relief Management (DERM) ACT.

Arena masjid pasca erupsi, terpapar berkubik-kubik pasir Kelud. Pengungsi menempati teras-teras masjid. Halaman yang masih luas dimanfaatkan dua Dapur Umum: ACT dan TNI. "Bapak-bapak TNI menyiapkan masakan saja, yang mendistribusikan relawan MRI-ACT," kata Elid Liradianta, relawan MRI-ACT asal Surabaya. "Masjid memang pas, meski ini sarana ibadah, ruang-ruang yang ada sebagian besar masih bisa didayagunakan untuk mengelola pengungsi. Disebut mengelola, karena pengungsi membutuhkan dampingan agar tidak stress, anak-anaknya dibimbing, yang dewasa juga menerima terapi healing," jelas Andhika.

"Ini menunjukkan, masjid dan rumah-rumah ibadah lainnya, tempat ideal yang sangat besar peran sosialnya. Masjid bukan semata area ritual, tapi konkret berperan sosial," jelas Andhika. (Elid/IS)

----------------

Bantuan dapat berupa barang kebutuhan pengungsi atau donasi yang dapat disalurkan melalui :

BSM # 0040119999

Muamalat # 3040031869

Mandiri # 1010004802482

BCA # 6760303133

CIMB Syariah # 5280100001006

BRI # 092401000018304

BNI Syariah # 0270360372

an. Aksi Cepat Tanggap