Beranda > Berita Terbaru
Super Volunteer

Kisah Para Pejuang Kemanusiaan (Bag. 2)

11 Feb 2014
Kisah Para Pejuang Kemanusiaan (Bag. 2)

Relawan Medis: Menembus Pelosok, Menjangkau Pasien

(Goresan Kisah Rehabilitasi Kesehatan Pascabencana Banjir)

 

Oleh Shulhan Syamsur Rijal

 

Durasi banjir tahun ini yang tak kunjung usai tentu berdampak buruk bagi kesehatan warga korban banjir. Tempat tinggal yang masih terendam, kondisi sanitasi yang buruk, kurangnya ketersediaan air bersih dan air minum, serta pola makan yang tak terjaga menjadi sekelumit masalah pasca banjir yang menyebabkan degradasi kesehatan bagi warga korban banjir. Kemungkinan mengundang datangnya penyakit khas pascabanjir, seperti gatal-gatal, flu, batuk, diare, ISPA, bahkan leptospirosis.

Menyadari permasalahan tersebut, tim emergency response ACT bergerak cepat menurunkan sejumlah relawan untuk melakukan rehabilitasi kesehatan pascabencana. Relawan yang dikhususkan memiliki segenap kemampuan khusus dalam bidang medis. Relawan medis ini bertanggung jawab penuh melakukan penanganan masalah kesehatan baik fisik maupun psikis pascabencana.

Sejumlah dokter, apoteker, dan perawat dari beragam latar belakang mendaftarkan dirinya secara sukarela sebagai relawan medis emergency response ACT. Di bawah komando langsung divisi Health for Humanity-ACT, relawan medis rela menerjang banjir, bahkan menembus pelosok demi menjangkau pasien.

“Apapun kondisinya, tim Health for Humanity ACT harus tetap profesional memberikan layanan kesehatan sesuai standar, prosedur, dan aturan yang berlaku,” ungkap ZhiyyaUrrahman, Penanggung Jawab Divisi Health for Hummanity-ACT.

Dokter Edi Sutanto, salah satu dokter yang menjadi relawan medis pun berbagi kisah tentang pelayanan kesehatan bagi korban banjir Jakarta. Berdasarkan pengalamannya, warga korban banjir terutama anak-anak, banyak mengeluhkan sakit infeksi saluran pernafasan atas, diare, bahkan ada beberapa kasus infeksi saluran telinga dan chikungunya.

“Penyakit pascabanjir yang harus diwaspadai tentu diare, akibat dari sanitasi yang kurang baik serta makan dan minum yang tak higienis, kalau diare terlambat ditangani bisa menyebabkan dehidrasi bahkan kematian” jelas dokter Sutanto.

Selama beberapa kali menjalankan program pelayanan kesehatan, Zhiyya pun memiliki sederet kisah unik heroik tim relawan medis. Ia bercerita, pernah suatu waktu tim relawan medis harus menjangkau wilayah pelosok di Rengasdengklok, Karawang.

“Ketika itu, korban banjir di Rengasdengklok sudah 23 hari terendam banjir, tak ada satu hari pun air surut.Akhirnya kami menyelenggarakan pelayanan kesehatan di atas air banjir yang masih menggenang selutut,” kisah Zhiyya.

Ada pula kisah tentang seorang warga di Tarumajaya, Bekasi yang mendatangi pos pelayanan kesehatan untuk meminta obat tidur. Orang tersebut mengeluhkan susah tidur selama tinggal di tenda pengungsian, dalam istilah medis disebuti Insomnia. Zhiyya pun menolak permintaan tersebut. Menurutnya, insomnia tak perlu diberikan obat tidur. Keluhan susah tidur bagi warga korban banjir adalah wajar karena tekanan pikiran dan mental.

“Saya hanya memberikan nasihat kepada warga tersebut untuk menenangkan pikiran, sabar dalam menghadapi cobaan, tak perlu obat tidur,” kisah Zhiyya.  

Beragam latar belakang relawan pun turut mewarnai lembaran kisah tim medis di lapangan. Lima mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Lampung (UNILA) menyediakan tenaga dan waktunya sebagai relawan medis di posko pelayanan kesehatan ACT di Manggarai, Jakarta Selatan.

Kelima orang calon dokter ini baru 4 semester mengenyam pendidikan dokter umum di bangku kuliah. Dengan semangat kepedulian sosial, mereka bahu - membahu membantu tim medis lain untuk memeriksa tekanan darah pasien, menerjemahkan resep obat-obatan dari dokter, dan tugas-tugas lain di posko pelayanan kesehatan.

“Awalnya lihat aksi pelayanan kesehatan di akun twitter Aksi Cepat Tanggap @ACTforHumanity, karena background kami juga dari fakultas kedokteran, kami tergerak menjadi relawan medis. InsyaAllah bisa sedikit membantu menyalurkan keahlian yang kami punya,” ujar Ivan, salah seorang mahasiswa UNILA yang mengabdi menjadi relawan medis ACT. []