Beranda > Berita Terbaru
Super Volunteer

Buche, Relawan Jangan Mengharapkan Imbalan

10 Feb 2014
Buche, Relawan Jangan Mengharapkan Imbalan

Sudayat Kosasih    Foto: Shulhan Syamsur Rijal

Menjadi relawan merupakan pilihan hidupnya. Bahkan, tawaran menjadi PNS pun dia tolak. Niatnya sudah bulat untuk bergabung menjadi relawan ACT. Berangkat dari rumahnya, dia niatkan untuk berjihad.

Pilihan hidup menjadi relawan bukan pilihan orang-orang biasa. Pasti, di belakang orang-orang ini tersimpan spirit dan niali-nilai (values) yang menjadi prinsip hidupnya. Memiliki spirit inilah yang memotivasi Nurdin alias Buche memilih bergabung menjadi relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) saat musibah gempa besar berskala 7,3 SR yang berpusat di Tasikmalaya dan menimpa Pangalengan, Kabupaten Bandung, 2 September 2009.

Sejak itu, Buche merasa terpanggil jiwanya untuk menolong korban gempa Pangalengan yang tidak jauh dari kampung halamannya di Kampung Babakan Maruyung, Desa Cipinang, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Berbekal keterampilan water rescue (pertolongan pertama di air), menjadikan Buche diamanahi sebagi salah seorang personel Team Rescue ACT yang tergabung dalam Divisi Disaster Emergency and Relief Management (DERM).

Memiliki pengalaman dan jam terbang yang tinggi di dunia water rescue menjadikan Buche dipercaya untuk memperkuat barisan tim lainnya. Ada 10 relawan yang berasal dari Bandung yang memiliki skill spesialis air. Sebut saja Kang Cucum, Kang Sandy, Idong, Monoz, Amir, Ading, Lukman, dan lain-lain. Mereka adalah orang-orang hebat yang memiliki keterampilan Special Water Rescue.

Buche sendiri, sebelumnya aktif di komunitas Arung Jeram Dens Bond Rafting bersama Kang Cucum, Kang Sandy, dan kawan-kawan. Perkumpulan pecinta wisata arung jeram yang berpusat di Sungai Cisangkuy Bandung Selatan ini, selain menawarkan paket wisata arung jeram, juga sebagai base camp training water rescue dengan memberdayakan para pemuda di daeranya untuk menjadi calon relawan water rescue.

“Saya lebih memilih jadi relawan ACT, karena lebih banyak pengalaman menolong korban bencana di beberapa daerah, dan banyak peluang besar untuk menolong orang-orang yang sangat membutuhkan di manapun,” ungkap Buche yang sebelumnya aktif di lembaga kemanusian lokal.  

Jika ada panggilan emergency response (tanggap darurat), Buche rela mengorbankan pekerjaan sehari-harinya. Dia bekerja membawa kendaraan truck, mengangkut sayur-sayuran dari Pangalengan Bandung ke Cibitung sampai ke Pasar Induk Kramat Jati Jakarta Timur.

“Saya senang jadi relawan. Orang tua saya juga mendukung. Berangkat dari rumah, saya niatkan untuk jihad aja. Jangan sekali-kali mengharapkan imbalan kalau mau jadi relawan,” pesan Buche.

Jadi relawan, banyak pengalaman yang menarik. Dia yakin, kalau kita mau bekerja sungguh-sungguh dengan ikhlas dan semata-mata untuk menolong orang lain, rezeki akan datang dengan sendirinya melalui kekuasaan Allah. Bahkan, dengan banyak menolong para korban, dirinya merasa lebih dekat dengan Allah Swt.

“Yang paling berkesan, pada saat bencana gunung Merapi. Waktu itu mau evakuasi korban yang terancam bahaya awan panas, jam 11 malam, saya tiba-tiba ingat mati. Pokoknya, saat itu saya merasakan antara hidup dan mati,” kenang Buche terharu, saat menolong korban di radius 11 km, padahal titik aman di 25 km. []